UBK dan UBK

UBK dan UBK

(Khoirul Anam)

Tahun 2017 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer atau UNBK untuk sekolah jenjang SMP sederajat dan SMA sederajat termasuk SMK. Tahun 2017 ini sekolah-sekolah pada jejang tersebut berpacu untuk melaksanakan ketentuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Sebagian sekolah sudah siap melaksanakannya namun sebagian sekolah masih harus berusaha keras memenuhi fasilitas UNBK bahkan ada yang harus menumpang disekolah lain.

Jaman terus berubah dan perubahan adalah abadi. Manusia juga harus berubah mengikuti jamannya. Beberapa tahun terakhir ini perubahan yang pesat adalah dalam bidang teknologi informasi. Semua bidang kehidupan tidak luput dari pengaruh perkembangan teknologi informasi. Hampir semua orang mengenal internet. Hampir semua orang tergantung pada teknologi informasi untuk bersosialisai. Demikian halnya dalam bidang pendidikan mulai pendidikan usia dini sehingga perguruan tinggi. Termasuk juga pendidikan menengah pertama, menengah umum maupun menengah kejuruan.

Teknologi informasi sangat berpengaruh dalam pelaksanaan proses pembelajaran mulai dari persiapan, pelaksanaan sehingga evaluasi. Proses persiapan seperti perencanaan waktu belajar, persiapan bahan ajar sehingga skenario pembelajaran tak bisa lepas dari teknologi informasi minimal untuk membuatnya, semua guru menggunakan aplikasi office di komputer atau laptop, serta internet untuk mencari informasi. Persiapan bahan ajar sudah tidak hanya bergantung pada buku cetak saja tetapi sudah dapat dilengkapi dengan bahan ajar buatan sendiri atau tinggal mengunduh dari internet. Bahan ajar dipersiapkan sedemikian rupa menggunakan aplikasi tertentu sehingga menghasilkan media ajar yang lebih menarik dan mudah dimengerti. Media ajar yang dihasilkan tersebut bisa berbentuk gambar, gambar bergerak, animasi ataupun film. Media tersebut bisa ditayangkan menggunakan proyektor atau pesawat televisi dan bahkan bisa dikopi ke komputer atau laptop siswa bahkan telepon pintar. Bahan ajar yang berupa file dan sudah dipunyai siswa tersebut bisa dipelajari siswa dimanapun dan kapanpun. Bahkan bisa dikembangkan lagi dengan menggunakan blog atau website yang bisa dipakai mirip majalah dinding dan bahan ajarnya juga bisa dipampang di web tersebut sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan dapat diambil oleh yang siswa untuk belajar.

Perkembangan pembelajaran selain dalam pembuatan bahan ajar juga dalam bidang pelaksanaan pembelajaran. Pemanfaatan teknologi informasi ternyata sudah sampai pada pembelajaran jarak jauh atau dari beberapa tempat berbeda dengan menggunakan teknilogi steaming. Siswa dari beberapa ruang kelas dapat belajar bersama dengan mata pelajaran atau bahan ajar sama dalam waktu bersamaan bahkan mungkin yang berbeda sekolah, berbeda kota sehingga berbeda negarapun bisa dilaksanakan. Sudah sedemikian majunya teknologi informasi dan komunikasi.

Proses pembelajaran yang berikutnya adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar siswa. Penilaian secara umum dilaksanakan berupa ujian atau tes, mulai dari ujian harian, ujian tengah semester sehingga ujian akhir semester. Sampai dengan beberapa tahun terkhir ini ujian sekolah walau sudah menggunakan teknologi informasi tetapi masih sebatas untuk pembuatan soal, koreksi LJK maupun pengolahan nilai sehingga pencetakan laporan hasil belajar. Soal ujian masih berupa cetakan pada kertas dan untuk jawaban disediakan lembar jawaban komputer (LJK) yang juga berupa kertas. Pelaksanaan ujian menggunakan kertas disebut juga UBK (ujian berbasis kertas) atau PBT (paper base test).

Pelaksanaan UBK/PBT memerlukan kertas sebagai media utama dan alat tulis yang populer yaitu pensil 2B. Kertas yang digunakan untuk soal UBK tersebut berjumlah banyak lembar, tentu ini membutuhkan anggaran yang banyak pula. Masalah berikutnya adalah ketika selesai ujian, mau dikemanakan kertas soal ujian tersebut, kemungkinan besar disimpan di gudang atau dibuang. Misalnya peserta ujian kelas X sebanyak sebanyak 240 orang siswa, maka dibutuhkan 12 ruang ujian jika masing-masing ruang hanya menampung 20 orang siswa atau 6 ruang jika tiap ruang berisi 40 peserta. Untuk 10 mata pelajaran yang sedang diujikan, setiap mata pelajaran terdiri dari 5 lembar kertas soal maka dibutuh kan 50 lembar kertas untuk setiap siswa. 240 siswa akan memerlukan 1.200 lebar kertas soal setiap hari dan 12.000 lebar kertas soal belum termasuk LJK dan amplop serta kertas lainnya. Kebutuhan kertas tersebut untuk satu kali ujian, jika dalam satu tahun diadakan ujian empat kali untuk kelas X, maka kebutuhan kertas juga empat kalinya. Untuk meningkatkan potensi kejujuran dalam mengerjakan soal, maka variasi soal dibuat 2 macam dan bahkan akhir-akhir ini dibuat 5 variasi soal serta dibutuhkan 2 orang pengawas ujian disetiap ruang ujian.

Permasalahan lain yang timbul adalah setelah ujian selesai, beribu-ribu lembar kertas soal yang sudah tidak terpakai tersebut, akan dikemanakan. Mungkin untuk keperluan selanjutnya, maka kertas soal harus disimpan dengan rapi dan baik. Diperlukan tempat atau gudang yang cukup untuk menyimpan kertas-kertas tersebut.

Menanggapi permasalahan tersebut di atas, maka perlu dipertimbangkan penggunaan teknologi informasi untuk pelaksanaan ujian sekolah mulai ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester sehingga ujian nasional. Ujian dilaksanakan dengan menggunakan komputer yang populer dengan istilah CBT (computer base test) atau UBK (ujian berbasis komputer). UBK atau ujian dengan menggunakan komputer bisa dilakasnakan dalam ruang tertentu yang sudah disiapkan, yaitu komputer atau laptop sejumlah tertentu misalnya 40 lengkap dengan sistem jaringan dan servernya. Sebagai gambaran sederhana jika peserta ujiannya kelas X sebuah SMK ada 240 siswa, untuk pelaksanaannnya bisa dikelompokkan menjadi 6 kelompok masing masing 40 siswa,sehingga dalam satu hari dilaksanakan ujian untuk 6 kelompok masing-masing kelompok butuh satu sesi, sehingga diperlukan 6 sesi ujian. Jika demikian maka ujian selesainya bisa sore atau malam hari. Supaya ujian tidak mencapai sore hari, maka diperlukan satu ruang ujian lagi dengan jumlah komputer atau laptop sebanyak 40 set, jadi totalnya ada 2 ruang CBT dan 80 set komputer atau laptop. 6 kelompok peserta ujian bisa dibagi menjadi 2 kelompok untuk masing-masing ruang. Di tiap ruang ujian (CBT) bisa dilaksanakan ujian untuk 3 kelompok atau 3 sesi, sehingga pelaksanaan ujian tidak memakan waktu sampai sore hari.

UBK atau ujian berbasis komputer sudah tidak memerlukan kertas soal lagi, maka penggunaan kertas dapat ditekan seminim mungkin. Semua soal dimasukan ke dalam aplikasi komputer yang diatur sedemikian rupa sehingga urutan nomer soal menjadi acak. Komputer satu dengan yang lainnya dalam waktu bersamaan tidak akan menampilkan soal yang sama untuk nomor soal yang sama. Perbedaan urutan soal antar komputer tersebut sama saja dengan variasi soal, yang bisa diatur sesuai jumlah komputer. Jadi misalnya satu ruangan terdapat 40 komputer maka variasi soal bisa sampai 40 variasi. Pilihan jawaban juga dapat dibuat acak untuk soal yang sama sehingga dapat memperkecil kemungkinan saling mencontek antara satu peserta dengan lainnya. Potensi kejujuran dalam mengerjakan soal semakin meningkat.

UBK dapat menambah kecepatan peserta ujian dalam mengerjakan soal, karena pertama peserta tidak perlu lagi menuliskan identitasnya dengan menggunkanan pensil untuk menghitamkan bulatan-bulatan pada LJK tetapi cukup memasukkan no peserta dan token untuk login. Kedua peserta tinggal menekan mouse atau klik pada pilihan jawaban yang tersedia atau tidak perlu lagi menghitamkan bulatan pada pilihan jawaban. UBK juga mempunyai kecepatan dalam koreksi soal dan bahkan jika dimungkinkan, peserta ujian dapat melihat langsung hasil ujian yang dapat ditampilkan ketika ujian berakhir. Kemudahan berikutnya untuk guru maupun sekolah yang berkepentingan untuk pengolahan nilai. Hasil koreksi dari komputer server dapat langsung dikopi ke komputer atau laptop guru sehingga dapat mempersingkat proses pengolahan nilai maupun analisa butir soal.

Kelebihan dari UBK tersebut juga mengandung kekurangan antara lain pertama investasi awalnya cukup besar, jika misalnya 1 komputer harganya 7.500.000 Rupiah, maka 40 komputer sudah menghabiskan anggaran sebesar 300 juta rupiah masih belum termasuk komputer server, instalasi jaring dan pembuatan aplikasinya. Walaupun demikian investasi tersebut tidak habis pakai dalam sekali pemakaian, tetapi bisa dipakai untuk beberapa kali ujian bahkan mungkin bisa bertahan sampai lima tahun atau lebih tergantung pemakaian dan perawatannya. Operasionalnya memerlukan pasokan arus listrik yang stabil, jika 40 komputer dipakai semua sedangkan 1 komputer memerlukan 100 watt, maka total listrik yang diperlukan adalah 4 ribu watt atau 4 kilowatt perjam disetiap ujian. Kebutuhan listrik yang cukup besar.  Besarnya kebutuhan listrik mungkin bisa terbayarkan oleh kecepatan, kemudahan, efisiensi biaya operasional dan akurasinya.

Permasalahan berikutnya yang akan timbul adalah jika fasilitas UBK tersebut tidak dipakai ujian, selanjutnya bagaimana.

Fasilitas UBK memang investasi yang mahal bagi sekolah, untuk itu perlu pemikiran pengembangan pemanfaatan setelah selesai dipergunakan sebagai fasilitas ujian. SMK Negeri 3 Batu sudah ada rencana pengembangan antara lain adalah yang petama untuk pembelajaran yang berbasis komputer atau media interaktif, kedua untuk ulangan harian yang berbasis komputer, ketiga sebagai laboratorium KKPI, keempat direncanakan untuk laboratorium grafis. Selain itu ada sebagian komputer yang memang rancang dengan spesifikasi cukup tinggi sehingga bisa digunakan untuk laboratorium editing. Dari rencana pemanfaatan lanjutan tersebut maka diharapkan fasilitas UBK menjadi lebih bermanfaat tidak hanya ketika ujian saja tetapi juga untuk pembelajaran.

Pengembangan lanjutan yang masih memungkinkan dari UBK yaitu ujian online artinya ujian yang dapat dikerjakan secara online dan bisa dilakukan di lain tempat atau tidak berkumpul di ruang CBT seperti sekarang ini. Peserta ujian dapat mengikuti ujian dan megerjakan soal ujian dari berbagai tempat dengan menggunakan perangkat IT yang bermacam-macam, antara lain komputer (PC), laptop, tablet dan telepon pintar. Walaupun demikian syarat dan ketentuan atau aturan ujian tetap harus diberlakukan untuk menjaga standar mutu ujian.

Sekolah kejuruan yang memiliki agenda praktik kerja industri (prakerin) atau on the job trainning (OJT) bagi siswa dan gurunya, dapat memanfaatkan pengembangan dari ujian berbasis komputer tersebut. Mereka yang berada jauh disekolah karena prakerin masih bisa mengikuti pembelajaran maupun ujian menggunakan moda online atau daring (dalam jaringan). Demikian juga dengan guru yang sedang mengikuti OJT dapat melaksanakan pembelajaran dengan moda daring. Jadi setiap siswa dimanapun berada tetap bisa mengikuti pembelajaran dan ujian.

Bagi sekolah, guru maupun siswa serta orang tua siswa, lebih menguntungkan mana apakah UBK (ujian berbasis kertas) ataukah UBK (ujian berbasis komputer) ?

Mungkinkah suatu saat sekolah tidak perlu lagi membutuhkan kertas yang banyak untuk pembelajaran, atau mungkinkah suatu saat sekolah tidak megharuskan lagi kehadiran siswa setiap hari selama 5 hari, jika semua pembelajaran hingga ujian sudah menggunakan sarana teknologi informasi dan teknologi, semua serba internet ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s