Taubatan Nasuha

 

Batu, 20190404

Taubatan Nasuha

Taubatan nasuha adalah taubat yang benar-benar taubat atau taubat yang sebenarnya. Taubat yang dilkaukan dengan bersungguh-sungguh dan tidak akan mengulanginya lagi. Tobag yang dilakukan dengan bersungguh sungguh pasti akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Allah yang maha pengampun.

Taubat yang sungguh-sungguh harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:

Pertama : menyesali kesalahan.

Menyadari bahwa kesalahan yang telah dilakukan sebagai kesalahan dan kemudian ikrar dalam hati dengan penyesalan karena telah terlanjur melakukannya. Hati yang sedih karena telah melakukan kesalahan merupakan tanda penyesalan. Seseorang yang telah menyesali terhadap kesalahannya menandakan bahwa dirinya telah bertaubat. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda “Penyesalan adalah pertanda beratubatnya seseorang.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)

Kedua : mengakui bahwa dirinya bersalah.

Seseoarang yang telah melakukan kesalahan dan kemudian mengakui bahwa dirinya bersalah, kemudian bertekad tidak akan mengulanginya lagi, maka seseorang tersebut dinyatakan telah bertaubat.  Sebagaimana firman Allah yang terjemahannya seagai berikut “Dan juga orang-orang uyang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran 3: 135).

Ketiga : membutuhkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala

Allah maha pengampun, ampunan Allah sangat dibutuhkan ketika kita ingin mensucikan hati dari perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Tindakan seperti ini pernah dilakukan oleh nabi Adam alaihissalam dan ibu Hawa saat mereka melanggar perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala. “Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: Al-A’raf 7: 23).

Keempat : Tidak mengulangi lagi perbuatan dosa.

Berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan adalah pertanda bahwa ia telah bertaubat. Kemudian dosa yang pernah dilakukannya harus diganti dengan amalan-amalan shalih, jika taubatnya ingin diterima Allah yang maha pengampun.

Tirmidzi meriwayatkan dalam kitabnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam telah bersabda, “Aku benar-benar mengetahui orang terakhir yang keluar dari neraka. Orang itu dihadapkan pada hari kiamat lalu dikatakannya dihadapannya, Tunjukkan kepadanya dosa-dosanya yang kecil.’ Sedang dosa-dosanya yang besar disembunyikan. Dikatakan, ‘Pada hari ini dan itu aku berbuat begini dan begitu.’ Orang itu mengakui dan tidak menyangkalnya. Dia merasa kasihan kepada diri sendiri karena dosa-dosanya yang besar. Dikatakan, ‘Berikan kepadanya satu kebaikan pengganti dari satu keburukan yang dilakukannya.’ Orang itu berkata, ‘Aku mempunyai beberapa dosa yang tidak kulihat di sini.’ Abu Dzar tersenyum dan berkata, ‘Kulihat Rasulullah tersenyum, hingga terlihat gigi gerahamnya.”

Dapat juga dikatakan bahwa setiap keburukan orang yang bertaubat diganti dengan kebaikan karena ia menyesalinya. Penyesalannya merupakan taubatnya dari keburukan itu, sebab penyesalan itu juga sudah merupakan taubat sedangkan taubat dari setiap dosa adalah kebaikan.

Iklan

Doa Setelah Adzan dan Iqamah

Batu, 20190207

Doa Setelah Adzan dan Iqamah

Saudara seiman setelah kita mendengarkan kumandang adzan, marilah kita membaca dan menghafalkan doa setelah adzan. Membaca doa setelah adzan ini merupakan sebuah amalan sunnah yang penting.

Dalam doa setelah adzan ini terdapat permohonan kepada Allah swt., agar Nabi Muhammad saw., diberikan wasilah dan keutamaan, dan ditempatkan pada maqaaman mahmuuda, sebuah tempat yang baik, mulia, indah, dan terpuji.
Bacaan Doa Setelah Adzan

Doa ini dibaca setelah adzan berkumandang, baik itu Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib ataupun Isya’. Syukur kita bisa menghafalkannya dan mengamalkannya. Berikut adalah doa setelah adzan dikumandangkan:

اَللّٰهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ . آتِ مُحَمَّدًانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ, وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَّحْمُوْدًانِ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ , إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادِ

“Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammah wash shalaatil qaa-imah, aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wab ‘atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa’adtah, innaka laa tukhliful mii’aad”

Artinya:

“Ya Allah, Tuhan yang menguasai panggilan yang sempurna (adzan dan iqamah) serta panggilan shalat yang didirikan, berikanlah kepada nabi Muhammad washilah, dan kemuliaan, dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia yang telah Engkau janjikan. Sungguh Engkau-lah Dzat yang tidak (pernah) menyalahi janji. ”
Bacaan Doa Setelah Iqamah

Sebagai waktu shalat, tentu setelah adzan akan dilanjutkan dengan iqamah selang beberapa. Dalam iqamah ini ternyata juga ada doanya. Berikut doanya

اَقَامَهَااللهُ وَاَدَامَهَا مَادَامَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ

Aqaamahallaahu wa adaamahaa maadaamatis samaawaatu wal ardlu

Artinya :

“Semoga Allah menegakkan dan mengekalkan shalat selama masih ada langit dan bumi”

 

dikutip dari : https://portal-ilmu.com/doa-setelah-adzan-dan-iqamah/

 

Do’a Penutup Majlis

Batu, 20190207

Saudara mungkin kita sering kali mengikuti majlis. Majlis yang kita ikutipun sangat mungkin banyak macamnya. Majlis ta’lim, majlis musyawarah kampung, majlis musyawarah keta’miran, atau najlis lainnya. Ketika mengikuti majlis kita berharap mendapatkan suatu kebaikan yang sebaik-baiknya akan tetapi terkadang ada saja hal-hal yang menyebabkan kekurang baikan diantara peserta majlis atau mungkin juga hasil majlis yang belum sesuai dengan harapan. Ada baiknya kita mengikuti sunnah Nabi muhammad SAW dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai berikut:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِك
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ،
إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ.

Artinya:

Rasulullah SAW. bersabda: “”Siapapun yang berada pada suatu majelis, kemudian pada majelis tersebut terdapat banyak perkataan yang tidak berguna, lalu sebelum beranjak meninggalkan majelis, mengucapkan hal (doa) ini (Kafaraatul Majlis) ,

“Subhaana kallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika”

(Maha Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun pada-Mu, dan aku bertaubat pada-Mu.’ ), Kecuali telah diampuni bagi orang tersebut, sesuatu yang ada dalam majelis tersebut.”(HR. Tirmidzi)

 

maka

Lafadz dari doa penutup majelis ini adalah sebagai berikut:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhaana kallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika”

Artinya:

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat pada-Mu.”

dikutip dari : https://portal-ilmu.com/doa-penutup-majelis/

Semoga bermanfaat

Memperkuat Ikatan Ukhuwah Islamiyah

Rasulullah ﷺ pernah membuat gambaran indah tentang persaudaraan antar pemeluk agama Islam. Beliau melukiskan bahwa persaudaraan dalam ikatan keislaman itu seperti satu tubuh. Beliau bersabda:

مثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَداعَى لهُ سائِرُ الْجسدِ بالسهَرِ والْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman, dalam saling mencintai, saling menyantuni sesama mereka, adalah laksana kesatuan tubuh. Apabila satu bagian dari tubuh itu menderita sakit, maka seluruh badan turut merasakannya.” (HR. Muslim)
Setidaknya ada lima hal yang harus kita lakukan untuk membentengi persatuan kita sesama umat Islam. Kelima hal ini termasuk dalam hak dan kewajiban ukhuwah yang ditetapkan dalam Islam.
Pertama, menutup aib saudara seiman.
Rasa-rasanya tidak ada manusia yang terbebas dan bersih dari aib, cacat dan kekurangan diri. Setiap orang pasti punya kelemahan. Karenanya, tidak selayaknya kita menjadi bak bunyi pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, namun kuman di seberang lautan tampak.”
Kedua, memaafkan saudara seiman.
Langkah kedua ini diperlukan dalam hubungan kita sebagai makhluk sosial. Di sela interaksi sosial yang kita lakukan mungkin ada friksi dan hal-hal lain yang mengakibatkan kesalah-pahaman.
Ketiga, melepaskan kesulitan sesama Muslim.
Jika kita diminta untuk memilih antara kemudahan dan kesulitan, nyaris setiap kita lebih suka kemudahan dan tidak menginginkan kesulita. Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada rintangan dan hambatan yang membuat perjalanan hidup tidak seperti yang diharapkan.
Keempat, berbaik sangka kepada sesama Muslim.
Sikap baik sangka tidak berarti kita kehilangan kewaspadaan terhadap potensi kejahatan seseorang. Baik sangka adalah akhlak yang diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada para hamba-Nya. Kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada saudara kita. Tidak mudah terjebak dalam buruk sangka yang bisa mengakibatkan gangguan dalam hubungan antara sesama kita.
Kelima, berdoa untuk sesama Muslim, baik semasa hidupnya maupun setelah wafat.
Doa yang baik akan kembali kepada kita yang mendoakannya. Demikian pula sebaliknya. Kita doakan saudara-saudara kita yang dekat atau jauh. Kita kirimkan doa terbaik kita untuk seluruh umat Islam khususnya mereka yang sakit, terkena musibah, tertimpa kesulitan, maka kita pun akan mendapatkan kebaikan dan pahala dari doa kita sendiri.

*Selengkapnya di : https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/10/11/152486/lima-langkah-memperkuat-ikatan-ukhuwah-islamiyah.html

 

BERSEDEKAH DI HARI ASYURO

[08:56, 9/21/2018] +62 812-9479-xxx

BERSEDEKAH DI HARI ASYURO

Dikisahkan, ada satu keluarga miskin yang berpuasa di tanggal 10 Muharram (Asyuro). Pada hari itu mereka tidak memiliki apa pun untuk digunakan berbuka puasa pada sore harinya. Dengan sangat terpaksa si ayah berkeliling mencari pinjaman. Barangkali ada dermawan yang rela menghutangkan uangnya.
Setelah berkeliling berjalan kaki hingga jauh tidak membuahkan hasil, ia masuk ke sebuah toko emas yang dimiliki oleh seorang saudagar muslim. Setelah mengucapkan salam, laki-laki miskin itu menyampaikan maksudnya,
“Saya adalah orang miskin. Saya berharap anda sudi menghutangkan uang 1 dirham yang saya gunakan untuk membeli makanan berbuka untuk keluargaku. Dan saya akan mendoakan untuk anda di hari istimewa ini.”
Saudagar muslim itu memasang muka tidak suka seraya memalingkan wajahnya. Dia tidak memberikan apapun untuk orang yang telah memohon dengan halus itu.
Orang miskin itu keluar dari toko emas dengan perasaan pedih. Air mata meleleh di pipinya.
Tanpa disadari, ada saudagar pemilik toko emas beragama Yahudi yang menyaksikan kejadian tersebut. Saudagar Yahudi itu lantas mengikuti orang miskin yang berjalan pulang dengan langkah berat itu. Setelah berhasil menyusulnya, saudagar Yahudi itu berkata,
“Aku melihat anda berbicara dengan tetanggaku tadi.”
“Ya. Saya ingin meminjam uang 1 dirham untuk aku gunakan berbuka keluargaku di rumah. Tapi dia menolak dengan cara yang menyakitkan hati. Padahal aku menjanjikan akan ku doakan khusus pada hari ini.”
“Memangnya saat ini hari apa?”
“Ini hari asyuro.”
Orang miskin itu menjelaskan keutamaan beramal baik di hari Asyuro. Saudagar Yahudi itu mendengarkan dengan seksama. Dia merogohkan tangan ke sakunya mengambil uang 10 dirham dan diberikan kepada orang miskin di hadapannya.
“Ambillah uang ini. Belanjakan untuk keluargamu untuk memuliakan hari ini.”
Orang miskin itu mengucapkan terima kasih dan segera membelanjakan uang yang diterimanya.
Pada malam harinya, saudagar muslim bermimpi dalam tidurnya. Dilihatnya kiamat telah tiba. Dia merasakan haus yang luar biasa. Setelah melihat ke kanan dan ke kiri, ia mendapati sebuah istana megah dari berlian berwarna putih dan pintunya dari yaqut berwarna merah. Dia mendongakkan kepalanya dan berkata,
“Wahai penghuni istana, berikanlah aku seteguk air.”
Didengarnya ada suara dari dalam,
“Istana ini kemarin milikmu. Namun saat kamu menolak memberi pinjaman orang miskin dan melukai hatinya, namamu dihapus dari daftar pemilik istana ini. Dan sudah digantikan oleh tetanggamu yang beragama Yahudi yang telah memberi orang miskin itu 10 dirham dengan cuma-cuma.”
Saudagar muslim itu terbangun dari tidurnya dengan perasaan sedih penuh penyesalan. Dia menyalahkan dirinya sendiri akibat sikapnya hari kemarin.
Akhirnya dia datangi rumah tetangganya yang Yahudi.
“Anda adalah tetanggaku. Kita harus saling menolong. Aku membutuhkan bantuan anda saat ini.” kata saudagar muslim.
“Apa itu?”
“Juallah kepadaku pahala sedekah 10 dirham yang anda berikan kepada orang miskin yang datang padaku kemarin
. Aku bayar dengan uang 100 dirham.”
“Demi Allah, tidak akan aku berikan meski anda bayar seratus ribu dinar sekalipun. Bahkan walaupun anda hanya ingin sekedar memasuki pintu istana yang kamu lihat dalam mimpimu tadi malam, aku tidak akan mengizinkannya.”
Sontak terkaget saudagar muslim itu, mendengar tetangganya yang beragama Yahudi mengetahui mimpi yang dialaminya tadi malam. Dia belum bercerita kepada siapa pun tentang isi mimpinya. Dengan bibir bergetar dia bertanya,
“Siapa yang memberitahumu suatu rahasia dalam mimpiku itu?”
“Dia yang mengatakan kepada segala yang wujud kun fayakun. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” tegas saudagar Yahudi yang sudah menjadi muallaf itu.

Sumber:
– Kitab I’anantut Tholibin juz 2
– Di Balik Ketajaman Mata Hati karya Imam Al Ghazali.

Menjaga Generasi Penerus Kita dari Inhiroof (Salah Pergaulan)

[13:08, 9/21/2018] +62 838-7722-xxxx

Menjaga Generasi Penerus Kita dari Inhiroof (Salah Pergaulan)

DR. Nabil Al Awadhy, seorang ulama asal Kuwait, menulis artikel:

Proyekku – Anak-anakku
DR. Nabil Al-Awadhy
حينما أتكاسل عن أداء النوافل أتذكر أبنائي ومصائب الدنيا!! وأتأمل قوله تعالے: [وكان أبوهما صالحا] فأرحمهم وأجتهد
-تفكير مُخلص-
Ketika aku malas mengerjakan amalan Nawaafil (sunnah) aku teringat anak-anakku dan musibah kehidupan dunia yg telah terjadi dan masih menanti!!
Lalu aku teringat firman Allah dalam surat Al Kahfi
“Dahulu ayah dari kedua anak itu adalah orang shalih”,….
lalu karena teringat firman Allah itu, aku pun bertanya2,
“apa yang akan aku wasiatkan kepada anak² ku?”
Akhirnya akupun bersungguh-sungguh lagi beribadah dan mentaati perintah Allah agar menjaga mereka dari kehidupan yang salah (inhiroof) serta api neraka.
مشروعك الناجح هو (أولادك)، ولنجاح هذا المشروع، اتبع ماأخبرنا به الصحابي الجليل “عبدالله بن مسعود” عندما كان يصلي في الليل وابنه الصغير نائم فينظر إليه قائلاً:
من أجلك يا بني، ويتلو وهو يبكي قوله تعالى:
“وكان أبوهما صالحاً”.
Dan aku pun menyimpulkan, bahwa proyekku yang paling harus aku jaga keberhasilannya adalah “anak-anakku”.
Untuk mensukseskan proyek ini, coba ikuti pesan sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahuanhu, sahabat mulia ini ketika shalat malam dia sempat memandangi anak2 nya yang masih kecil yang sedang tidur.
Lalu dia bergumam, “aku melakukan keshalihan ini disertai dengan do’a agar engkau meneladaniku juga wahai buah hatiku”,
lalu dia shalat sambil menangis mentadabburi firman Allah:
“Wa Kaana Abuuhuma Shaalihaan ….” (dan dahulu ayah dari kedua anak itu adalah orang yang shalih), (surah.alkahfi.)
نعم إن هذه هي الوصفة السحرية لصلاح أبنائنا، فإذا كان الوالد قدوة وصالحاً وعلاقته بالله قوية، حفظ الله له أبناءه بل وأبناء أبنائه، فهذه وصفة سحرية و(معادلة ربانية).
Ya. Inilah resep dan wasiat yang baik untuk masa depan anak-anak kita yakni, “Memberi warisan teladan yang baik kepada anak2 kita.”
Ketika sang ayah menjadi qudwah, salih, dan dekat ‘alaqah nya kepada Allah, maka Allah akan menjaga anak anaknya, bahkan keturunannya. Ini adalah resep yang bagus dan merupakan Skenario Rabbaniyyah yang layak dilaksanakan.
كما أنه في قصة سورة الكهف حفظ الله الكنز للوالدين بصلاح جدهما السابع.
Sebagaimana di kisah surat Alkahfi itu Allah ternyata menjaga harta peninggalan orang tua yang sholeh itu untuk kedua anak mereka yang yatim sebagai karunia atas kesholehan mereka.
ويحضرني في سياق هذا الحديث أني كنت مرة مع صديق عزيز عليَّ-ذو منصب رفيع بالكويت ويعمل في عدة لجان حكومية- ومع ذلك كان يقتطع من وقته يومياً ساعات للعمل الخيري
فقلت له يوماً: “لماذا لاتركز نشاطك في عملك الحكومي وأنت ذو منصب رفيع”؟!
فنظر إليَّ وقال: “أريد أن أبوح لك بسر في نفسي، إن لديَّ أكثر من ستة أولاد وأكثرهم ذكور، وأخاف عليهم من الانحراف، وأنا مقصر في تربيتهم، ولكني رأيت من نعم الله عليّ أني كلما أعطيت ربي من وقتي أكثر كلما صلح أبنائي”.
Dan aku pun teringat ungkapan temanku, teman yang dekat bagiku, yang bekerja di kerajaan Kuwait dan memiliki jabatan yang tinggi.
Aku melihatnya selalu menyempatkan diri menyisihkan waktu beberapa saat dalam sehari semalam khusus untuk melakukan amal kebaikan (kesholehan).
Aku bertanya kepadanya, “bagaimana engkau bisa melakukan kesholehan dan tidak hanya terfokus saja bekerja dalam posisi jabatan pemerintahanmu, padahal engkau memiliki jabatan yang tinggi??!!”
Dia memandangku lalu menjawab,
_”aku ingin membocorkan “satu rahasia” yang ada dalam diriku padamu.
“Aku memiliki putra lebih dari 6 orang dan mereka semuanya laki-laki. Aku takut mereka terjerumus pada kehidupan yang salah (inhiroof). Sedang aku (dalam kesibukanku). Muqasshir (tidak optimal) dalam mendidik mereka. Dan aku ingin melihat dan membuktikan resep Allah SWT*
semakin banyak aku memberikan waktuku untuk Rabbku, semakin baik pula duniaku, khususnya
keadaan anak-anakku”_
Karena aku telah mewarisi teladan yang baik untuk mereka.
– اخترتها لك لأني أحب لك ما أحب لنفسي… أسعدك الله في الدنيا والآخرة وجعلك ووالديك ومن تحب من عتقائه من النار.
Aku menceritakan ini padamu karena aku mencintaimu dan ingin berbagi tentang apa yang aku cintai untuk diriku kepadamu…
Jadi, pelajarannya adalah, “jagalah anak2 mu dari musibah dunia dan api neraka dengan menjadi teladan bagi mereka. Niscaya, Allah akan menjaga anak2 mu dan hartamu untuk mereka dari musibah dunia.”
Semoga Allah memberikan kebahagiaan untukmu di dunia dan di akhirat, dan menjadikanmu, kedua orangtuamu dan orang2 yang engkau cintai sehingga terbebas dan dijauhkan dari api neraka. Aamiin.
اللهم إني نويت هذه الرسالة صدقة لأبنائي فاحفظهم من الانحراف ومن الشرور كلها.
أعيدوا إرسالها إلى أحبائكم بنية الصدقه ﻷبنائكم.
Ya Allah aku berniat membagi risalah singkat ini sebagai sedekah untuk anak-anakku agar terjaga dari inhiroof (salah pergaulan) dan dari kejahatan kehidupan dunia ini.
Kirimlah kepada orang2 yang anda cintai dengan niat sedekah untuk putra putrimu.

أرسلوها للآباء والأمهات

PENYUSUNAN RPP DENGAN PENDEKATAN STEM

PENYUSUNAN RPP DENGAN PENDEKATAN STEM

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.

  1. Komponen RPP

Komponen RPP terdiri atas:

  1. identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
  2. identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
  3. kelas/semester;
  4. materi pokok;
  5. alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
  6. tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  7. kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
  8. materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
  9. metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
  10. media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
  11. sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar,
    atau sumber belajar lain yang relevan;
  12. langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
  13. penilaian hasil pembelajaran.

 

  1. Prinsip Penyusunan RPP

Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
  2. Partisipasi aktif peserta didik.
  3. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.
  4. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
  5. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
  6. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
  7. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
  8. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
  9. Sistematika RPP

Sistematika RPP selalu berkembang dan berubah-ubah sesuai kebijakan yang berlaku, tetapi prinsip-prinsip pengembangannya tidak terlalu berbeda. Contoh sistematika RPP pada Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

  1. Identitas

 

  1. Sekolah :
  2. Mata pelajaran :
  3. Kelas/Semester :
  4. Materi Pokok :
  5. Alokasi Waktu :
  6. Kompetensi Inti (KI)
    [disajikan Deskripsi Rumusan KI-1 dan KI-2 seperti yang dinyatakan dalam Kompetensi inti dan kompetensi dasar pelajaran]

KI 3:

KI 4:

 

  1. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
    KD 3 :

Indikator Pencapaian Kompetensi:

KD 4 :

Indikator Pencapaian Kompetensi:

 

  1. Tujuan Pembelajaran ( Karakter diintegrasikan dalam deskripsi tujuan)

Pertemuan 1: ………………………………………………………………………………………………….. Pertemuan 2: …………………………………………………………………………………………………..

 

  1. Materi Pembelajaran

(disajikan materi pokok saja, rincian materi setiap pertemuan dinyatakan dalam Lampiran)

 

  1. Pendekatan/ Model/Metode Pembelajaran:

 

  1. Media/Alat dan Bahan Pembelajaran:

 

 

  1. Sumber Belajar:

 

  1. Langkah-langkah Pembelajaran
  2. Pertemuan Pertama: (…JP)
  3. Kegiatan Pendahuluan
  4. Kegiatan Inti

[disajikan garis besar alur berpikir pembelajaran secara lengkap, materi rinci
pembelajaran dimuat pada Lampiran Materi Pembelajaran Pertemuan 1

  1. Kegiatan Penutup

 

  1. Pertemuan Kedua: (…JP)
  2. Kegiatan Pendahuluan
  3. Kegiatan Inti [disajikan garis besar alur berpikir pembelajaransecara lengkap, materi rinci pembelajaran dimuat pada Lampiran Materi Pembelajaran Pertemuan 2]
  4. Kegiatan Penutup
  5. Pertemuan seterusnya.
  6. Penilaian
  7. Teknik Penilaian:
  8. Penilaian Sikap : Observasi/pengamatan/Jurnal
  9. Penilaian Pengetahuan : Tes Tertulis/Lisan/Penugasan*)
  10. Penilaian Keterampilan : Praktik/Produk/Portofolio/Projek*)

*) coret yang tidak perlu

  1. Bentuk Penilaian:
  2. Observasi : lembar pengamatan aktivitas peserta didik
  3. Tes tertulis : uraian dan lembar kerja
  4. Unjuk kerja : lembar penilaian presentasi
  5. Portofolio : penilaian laporan
  6. Instrumen Penilaian (terlampir)

 

……………, ……….. 2018

Mengetahui :

Kepala Sekolah,                                                               Guru Mata Pelajaran,

 

 

……………………………                                                 ………….………………………

NIP ……………………..                                                   NIP ……………………………

 

 

LAMPIRAN :

  1. Bahan ajar
  2. Instrumen Penilaian

Sumber: “STEM Materi IHT Instruktru Pelatihan Pembelajaran Berbasis STEM” Kerjasama antara SEAMEO, QITEP in Science dengan PPPPTK BOE, halaman 112